

YOGYAKARTA, MINGGU - Sawung Jabo merasa tertohok, sekaligus terangsang oleh keadaan musik dan kondisi Indonesia pada umumnya. Maka, setelah lama tak muncul, kini dia siap menggebrak belantika musik Indonesia lagi lewat album terbarunya.
Dia lantunkan “Karena Kau Bunda Kami”, “Gumam Batin Pengembara”, “Kesaksian Jalanan”, “Jamrud Katulistiwa”, “Serigala Sakit Jiwa”, “Sang Rajawali”, “Arek-arek Indonesia”, sampai teriak “Juancuook….”
Itu sebagian dari lagu-lagu Jabo yang siap masuk dapur rekaman, mulai Februari ini. Rencananya, Jabo akan memulai merekam lagu-lagunya di Studio Kua Etnika milik Jadug Ferianto, Yogjakarta, mulai 7 Februari.
Ini teriakan keprihatinannya, juga rekannya Hengky Kurniadi yang sekaligus sebagai produser, atas keadaan musik dan Indonesia pada umumnya. Untuk “meneriakkan” isi hatinya, dia menggandeng 23 musisi muda. Empat musisi dari Surabaya, 11 dari Solo, dan 8 dari Yogyakarta.
“Mereka punya latar belakang musik etnis sendiri-sendiri yang khas. Ini justru lebih memperkaya. Nanti, jenis musiknya tribal rock percussion. Ini sekaligus mengembangkan musik lokal. Siapa lagi kalau bukan kita yang memelihara dan mengembangkan. Sudah banyak karya bangsa ini yang diambil orang lain,” jelas Jabo, kala ditemui Kompas.co, di Joglo Jago (Jabo Gono) di kawasan Wirosaban, Yogyakarta.
Rencananya, Jabo akan mengusung 10 lagu. Tiga lagu di antaranya karangan lama, seperti “Karena Kau Bunda Kami” (1995), “Dongeng Politik” (1996), dan “Bianglala Jiwa” (2007). Tiga lagu lagi syairnya ditulis Hengky Kurniadi, yakni “Gumam Batin Pengembara”, “Sang Rajawali”, dan “Jamrud Katulistiwa”.
Jabo mengaku memang lama tak membuat album. Terakhir, dia membuat “Lorong Jiwa” pada 2003. Itu album tentang pengakuan diri dan panggilan hati. Namun, sebenarnya dia terus berkesenian baik di Indonesia, maupun di Australia.
Kenapa tiba-tiba dia membuat album lagi? “Aku prihatin dengan keadaan musik Indonesia, juga negeri ini. Mosok, keadaan negeri memprihatinkan begini, musik kita tak bereaksi. Aku tak mengutuk musik industri. Tapi, sebagai tanggung jawab seniman, harusnya ada porsi untuk menyikapi keadaan,” katanya.
“Yang aku prihatinkan, rakyat begitu terkotak-kotak. Rakyat seperti sapi perah para wakil rakyat atau partai politik. Saya tak yakin, partai-partai yang ada sekarang punya program yang jelas atau memenuhi harapan rakyat,” keluhnya.
“Yang ada sekarang bagaimana cara berkuasa. Setelah itu, bagaimana agar berkuasa lebih lama. Ini politik kekuasaan yang sedang dominan. Terbukti, partai-partai tak menyejahterakan rakyat,” tambahnya.
Karena musik Indonesia asyik dengan industri dan budaya selebirtisnya, Jabo ingin bereaksi terhadap keadaan dengan musiknya. Maka, albumnya nanti tak dijual, melainkan dibagi-bagi. Sehingga, semua orang bisa memilikinya dengan mudah, tanpa mengeluarkan uang.
“Kebetulan aku bertemu dengan Hengky. Terus, kami sepakat untuk melihat dan mereaksi keadaan Indonesia dari kacamata orang Surabaya atau Jawa Timur,” jelas Jabo.
Salah satu lagu Jabo dia beri judul “Juancuook Iku Sakti”. Kata “jancuk” memang khas Jawa Timur untuk mengekspresikan banyakk hal, keprihatinan, kekagetan, kegelisahan, kekecewaan, keheranan dan sebagainya.
Dengan kata itu pula, dalam salau satu lagunya, Jabo ingin berteriak. Sebab, katanya, “juancuook” itu memang satu kata, tapi jutaan maknanya.
“Tangi turu moco koran. Beritane gak karuan. Wong korupsi dadi menteri. Pringas-pringis nang televisi…..Wis tobato, ijok korupsi. Nek gak mandeg tak pisuhi, juancuooooook….juancuooooook.”
Demikian salah satu nukilan lagu Jabo berjudul “Juancuook Iku Sakti”. Tentang album, temanya masih dicari. “Mungkin juga pakai tema juancuook itu. Tapi, masih dipikir. Yang pasti, diusahak Maret sudah mulai dirilis,” katanya. (HPR)
kompas.com